Rabu, 25 Juni 2008

Mentari hidup

Hidup diduna tidaklah sendirian.

Hidup bersama orang lain tidak bersendirian.

Setiap orang mempunyai tujuan hidupnya masing-masing.

Pandangannya tentang hidup pun bermacam warna.

Akan sangat beruntung jika tujuan dan pandangan itu satu, saling bahu membahu untuk menggapai tujuan yang satu.

setiap langkah menjadi mantab,

setiap rintangan dilalui bersama,

setiap pahit getir kehidupan akan dirasa bersama.

yang akan berlangusng beberapa masa dibumi dan akan berkumpul kembali dikehidupan lain yang abadi.

 

Hidup tapi belum hidup tapi tidak pula dikatakan mati.

Menanti kehidupan yang hakiki dengan membekali diri.

Minggu, 22 Juni 2008

Begitu?

Ketika kita hidup untuk kepentingan pribadi, hidup ini nampak sangat pendek dan kerdil.
Ia bermula saat kita mengerti dan akan berakhir bersama usia kita yang terbatas.
Tapi apabila kita hidup untuk orang lain, yakni hidup untuk memerjuangkan fikrah, maka kehidupan ini terasa panjang dan memiliki makna yang dalam.

Ia bermula bersama mulainya kehidupan manusia dan membentang beberapa masa setelah kita berpisah dengan permukaan bumi.

Kehidupan yang hakiki tidak dihitung dengan jumlah tahun, tetapi diukur dengan jumlah perasaan.

(Anisa - Sayyid Qutb)

Kamis, 05 Juni 2008

Mampu tuk berubahkah?

Mengumpulkan semangat yang berserak, menjadi kekuatan untuk berubah. Berubah untuk ‘kembali’.

“Tiada daya dan kekuatan selain dari Allah”

 

Mentari pagi yang selalu dinanti,

fajar pagi yang membawa sebuah harapan,

karena esok pagi adalah harapan dan masa lalu adalah pengalaman,

hari ini adalah hari untuk berusaha.

Semua bisa berubah “Kita akan menjadi seperti apa yang kita usahan untuk jadinya”, atas ijin Allah tentunya.

 

Angin lalu sesekali berhembus membawa kabar kepergian seseorang disana, pergi untuk untuk selama dari dunia, mungkin kelak didunia yang lain akan bertemu kembali.